Kamis, 10 November 2011

SURAT TERBUKA UNTUK PARA KETUA LINGKUNGAN DAN PETUGAS LITURGI


 
Kepada Yth.
Para Ketua Lingkungan
Para Seksi Liturgi Lingkungan
Para Petugas Liturgi
Se- Paroki  St. Albertus de Trapani
Blimbing – Malang


Salam Damai dalam Kristus,
          Liturgi adalah perayaan misteri karya keselamatan Allah dalam Kristus, yang dilaksanakan oleh Yesus Kristus, Sang Imam Agung, bersama Gereja-Nya di dalam ikatan Roh Kudus. Di dalam liturgi, karya keselamatan Tuhan yang terlaksana di dalam Yesus Kristus di-raya-kan, dihadirkan lagi, dibuat meriah dan hidup terus. Pelaku Perayaan Liturgi adalah Kristus,  sang Imam Agung, bersama seluruh Gereja di dalam ikatan Roh Kudus. Maka Liturgi merupakan medan perjumpaan Allah dengan manusia dalam ikatan Roh Kudus, juga merupakan medan perjumpaan seluruh warga Gereja. Oleh karena itu, sifat-sifat liturgi adalah perayaan bersama, yang melibatkan Kristus dan Gereja, resmi (ada ketentuan-ketentuan baku yang harus dipatuhi), aktual dan kontekstual (ada ekspresi-ekspresi umat setempat yang saat itu berkumpul), memuliakan Allah dan sebagai sarana pengudusan manusia. Dengan pengertian demikian, maka Liturgi bukan sekedar kegiatan kumpul-kumpul bersama, nyanyi-nyanyi dan berdoa.
          Karena perayaan Liturgi adalah perayaan yang penuh makna, maka Bidang Perayaan Liturgi menyusun Jadwal Liturgi (terdiri dari :Petugas Koor (+Tatib dan Kolektan), Organis, Lektor, Petugas Dekorasi dan Kebersihan, Misdinar, dan memberikan saran-saran nyanyian Liturgi, dengan maksud para petugas liturgi dapat mempersiapkan diri dengan baik dan akhirnya sungguh membawa perjumpaan umat beriman dengan Allah, serta perjumpaan antara umat sebagai warga Gereja.
          Sehubungan dengan itu, maka kami meminta kerjasama Para ketua lingkungan, para seksi liturgi lingkungan untuk memperhatikan beberapa hal, yang perlu kita lihat kembali :

a)    Petugas Koor
Petugas Koor dipercayakan kepada Lingkungan-lingkungan, Mudika, Putra-Putri Altar, WKRI Blimbing, Bina Iman Anak, sekolah-sekolah yang ada di wilayah paroki Blimbing, dan kelompok lain yang menawarkan diri. Namun Prioritas utama diberikan kepada lingkugan-lingkungan. Dalam satu tahun,  lingkungan akan bertugas sebanyak 10 sampai 11 kali. Artinya, Setiap bulan lingkungan pasti akan mendapat tugas. Untuk Hari-Hari Raya (Mis :Natal, Paskah, HUT Paroki, dll- Koor adalah gabungan dari beberapa lingkungan).
Peran Koor :
1.  Membawakan secara tepat bagian-bagian yang dipercayakan kepadanya ;
2.  Mendorong partisipasi umat dalam menyanyi ;
3.  Meningkatkan nilai estetis perayaan liturgi tanpa menggusur peran umat.
Kinerja Koor :
1.  Paduan Suara/Koor hendaknya mengambil tempat yang sudah ditentukan yang mudah dilihat umat, untuk itu perlu memperhatikan penampilan dan penghayatan yang sesuai untuk ibadat;
2.  Paduan Suara hendaknya dengan arif mengusahakan keseimbangan akan perlunya nyanyian yang sudah dikenal umat agar umat dapat menyanyi, dan perlunya nyanyian baru untuk variasi dan menambah khazanah nyanyian yang dikenal umat ;
3.  Khusus untuk lagu baru, hendaknya Paduan Suara memberikan teks pada bangku umat dan melatih umat sebelum perayaan ekaristi berlangsung;
4.  Paduan Suara hendaknya mampu menarik umat untuk bernyanyi dengan baik.
b)   Pemazmur / Solis
Petugas Pemazmur / solis dipercayakan kepada Lingkungan/kelompok petugas Koor. Selain dilatih bernyanyi dengan baik, ada baiknya juga dilatih tata gerak liturginya. Tentu saja ini untuk pemazmur yang baru.
Peran dan kinerja  Pemazmur / Solis
1)  Tugas Pemazmur adalah membawakan mazmur tanggapan
2)  Pemazmur melaksakan tugas dari mimbar dan membawakan dari buku Mazmur (bukan dari lembaran misa)
3)  Pemazmur hendaknya menjiwai mazmur yang dibawakannya. Untuk itu perlu memahami isi, bentuk , dan suasana mazmur tanggapan yang bersangkutan.
4)  Pemazmur hendaknya membawakan mazmur tanggapan sedemikian rupa sehingga umat dapat menghayatinya sebagai tanggapan atas Sabda Tuhan yang baru didengarkannya.
c)    Lektor
Lektor adalah mereka yang bertugas membacakan Sabda Tuhan dari Mimbar. Kami berharap bahwa mereka yang terlibat dalam tugas ini, juga aktif dalam kegitan lingkungan. Untuk itu kami mohon bantuan ketua / seksi liturgi Lingkungan untuk menyerahkan jadwal liturgi pada petugas lektor. Jika yang bersangkutan tidak aktif dalam kegiatan berlingkungan, dan pindah ke lingkungan lain atau keluar paroki supaya diinformasikan kepada kami.
Peran  Lektor
a)  Lektor hendaknya menyadari perannya sebagai juru bicara Allah
b)  Peran lektor lebih dari sekedar membacakan Sabda Tuhan, tetapi mewartakannya kepada Umat sehingga umat terbantu untuk menanggapi, menghayati dan melaksanakan Sabda Tuhan.
Kinerja Lektor
a.  Hendaknya Lektor membacakan Sabda Tuhan dari Leksionarium atau Buku Bacaan Misa (jadi tidak dari lembaran lepas).
b.  Hendaknya Lektor membacakannya di depan umat dan bagi umat (jadi tidak hanya membaca bagi diri sendiri) sehingga umat mendengarkannya dan menjadi himpunan umat yang bersatu mendengarkan Sabda Tuhan.
c.  Hendaknya Lektor mempersiapkan pembacaan Kitab Suci baik secara rohani dengan pemahaman isinya maupun dari sudut teknis pembacaannya dengan latihan.
d)   Kebersihan dan Dekorasi Liturgi
Petugas kebersihan dan dekorasi Liturgi dipercayakan pada Lingkungan dan kelompok Orka yang ada di Paroki dan dijadwalkan secara bergilir. Dalam tugasnya akan dibantu oleh Tim dekorasi Paroki.
Tugas Penghias / Kebersihan Gereja :
1.  Penghias gereja mempunyai tugas luhur menciptakan ruang dan suasana yang mendukung umat untuk menghayati perayaan liturgi.
2.  Penghias gereja menata ruang gereja sesuai dengan tingkatan perayaan dan masa liturgi.
Kinerja penghias gereja :
1.  Penghias gereja, terutama perangkai bunga di sekitar altar, memang tampil sebelum perayaan liturgi, namun hasil kerjanya dimaksudkan menambah suasana keindahan perayaan liturgi. Hendaknya dipakai bunga asli.
2.  Hendaknya penghiasan, jangan sampai mengaburkan makna dan pusat perayaan liturgi, melainkan justru memperjelas dan menggarisbawahinya. Untuk itu konsep dekorasi (khususnya untuk hari-hari besar: natal/paskah,dll) supaya dibicarakan dengan pastor paroki bersama ketua bidang liturgi.
3.  Hiasan jangan sampai menghambat pandangan atau mengganggu kelancaran gerak petugas.
e)    Nyanyian Liturgi
Nyanyian liturgi menyatu secara utuh di dalam liturgi, merupakan liturgi itu sendiri, yang merupakan perjumpaan antara Tuhan dan manusia, serta perjumpaan antara manusia sebagai warga Gereja.
Maka kriteria pokok nyanyian liturgi adalah (a) membantu terjadinya perjumpaan Tuhan dan manusia, serta antar manusia dan sesamanya, (b) sesuai dengan misteri iman akan Kristus yang sedang dirayakan, (c) mampu mempersatukan umat beriman dan membantu umat untuk berpartisipasi sadar dan aktif dalam perayaan liturgi.
Saran nyanyian Liturgi yang kami sajikan dalam jadwal liturgi disusun berdasarkan tema dan misteri yang akan dirayakan dan direkomendasi oleh Komlit KWI. Perihal Nyanyian Persiapan Persembahan: Jika tidak ada perarakan bahan persembahan, tidak perlu ada nyanyian (PUMR 74). Ada baiknya dibaca kembali buku Panduan Memilih Nyanyian Liturgi, E.Martasudjita & J.Kristanto, Kanisius 2007.
f)     Petugas Tatib dan Kolektan
Petugas Tatib dan Kolektan dimabil dari lingkungan/kelompok yang bertgas Koor. Lingkungan silahkan melibatkan remaka dan anak untuk ambil bagian dalam tugas kolektan, namun perlu dipersiapkan dengan baik. Lingkungan dapat meminta bantuan kelompok-kelompok yang ada di paroki, misalnya legio,  PWK St. Monika, dll.
Tugas dan Kinerja Kolektan :
1.  Kolektan bertugas mengumpulkan kolekte dengan cara yang sedapat-dapatnya tidak mengganggu konsentrasi umat dalam perayaan liturgi.
2.  Kolektan hendaknya mengenakan tanda tertentu (salib) dan bila berkeliling di antara umat, penampilannya hendaknya jangan sampai mengganggu umat.
3.  Hendaknya kolektan menghindari kesan memaksa terutama pada umat yang kurang mampu dan memang tidak bermaksud memberi kolekte.



Tugas Petugas Tata tertib :
1.  Menyambut umat di pintu gereja, mengantar mereka ke tempat duduk, mengatur saat perayaan dan menyambut komuni. (PUBM 68b). Tugas ini akan dibantu oleh Tim Among Umat yang ada di Paroki.
2.  Bertanggungjawab untuk mengantisipasi terjadinya hal-hal yang dapat mengganggu perayaan liturgi.
3.  Tugas tata tertib dapat dirangkap oleh kolektan
Kinerja Petugas Tata tertib :
1.  Hendaknya ramah, sopan, tegas , dan lembut
2.  Kalau harus menertibkan umat hendaknya tetap simpatik.
3.  Dalam berpakaian hendaknya sopan dan rapi.
g)    Petugas Persembahan
Untuk paroki kita, Perarakan Bahan Persembahan diutamakan pada Hari-Hari Raya pada Misa Sabtu Pkl.16.30, Minggu Pkl. 08.00 dan 18.00 atau Hari Raya yang jatuh diluar Sabtu dan Minggu pada Misa Pkl. 17.00. Selain bertugas sebagai pengantar bahan persembahan, lingkungan juga diminta untuk menyediakan bahan persembahan.
Yang termasuk bahan persembahan adalah hasil bumi dan usaha manusia. Bentuk hasil bumi dan usaha manusia itu bermacam-macam, misalnya hasil panenan (buah-buahan), bunga, dsb namun yang pasti tentulah roti dan anggur. Yang sangat biasa dikumpulkan sebagai bahan persembahan adalah uang kolekte. Kolekte ini dapat diarak bersama buah-buahan,bunga,dsb.
Urutan perarakan bahan persembahan : roti dan anggur selalu paling depan, karena itu adalah bahan persembahan yang langsung dibawa ke altar dan pada saatnya akan diubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus, bunga, buah-buahan, buah tangan lain dan kolekte. Bahan-bahan persembahan yang kita bawa itu sebagai ungkapan rasa syukur dan terima kasih kita kepada Tuhan.

Akhirnya kami mengucapkan apresiasi setinggi-tingginya kepada lingkungan, petugas liturgi dan umat paroki atas keterlibatan aktifnya dalam berliturgi. Semoga berkat rahmat pencurahan Roh Kudus dalam peristiwa Pentakosta yang baru saja kita rayakan, membuat kita sekalian mampu ambil bagian dalam tugas liturgi dengan mempersiapkan dengan baik sehingga perayaan liturgi sungguh menjadi medan perjumpaan Allah dengan manusia dalam ikatan Roh Kudus dan juga merupakan medan perjumpaan  antar sesama warga Gereja. Amin
In Christo,

Mengetahui
Moderator Liturgi


RD. Y.P. Aang Winarko
Ketua Bidang
Perayaan Liturgis


Deddy Dismas


Menghormati Altar dan Tabernakel


Tempat khusus untuk imam disebut panti imam (presbyterium). Panti imam dibuat khas dan berbeda dari bagian ruangan gereja lainnya. Biasanya dengan lantai yang lebih tinggi daripada tempat umat dan dirancang dengan hiasan khusus. Inilah tempat penting yang cukup luas untuk kegiatan kudus dan bisa dilihat jelas oleh semua yang hadir. Umat pun dapat berpartisipasi dengan lebih baik dan kegiatan ritual dapat dilaksanakan di situ.

Di panti imam terdapat altar, mimbar, dan kursi imam. Ketiga perabot ini ibaratnya satu paket yang amat penting dan bermakna. Ketiganya menopang tindakan-tindakan liturgis selama Misa. Imam selebran akan secara bertahap menggunakan perabot itu. Perabot pertama yang dituju adalah altar. Namun, dalam Ritus Pembuka, altar baru sebatas dituju untuk dihormati dengan beberapa sikap tubuh, baik yang secara khusus dilakukan oleh imam maupun oleh petugas liturgi lainnya.

Keistimewaan altar

PUMR 296 merumuskan altar sebagai ”tempat untuk menghadirkan kurban Salib dengan menggunakan tanda-tanda sakramental. Sekaligus altar merupakan meja perjamuan Tuhan, dan dalam Misa umat Allah dihimpun di sekeliling altar untuk mengambil bagian dalam perjamuan itu. Kecuali itu, altar juga merupakan pusat ucapan syukur yang diselenggarakan dalam Misa.” Ada tiga metafora yang saling melengkapi: altar untuk kurban Tubuh-Darah Kristus, meja Tuhan untuk perjamuan di akhir zaman, dan pusat pengucapan syukur umat dalam kesatuan dengan seluruh Gereja. Altar itu sebaiknya permanen, materinya batu, dan berbentuk meja, sehingga secara jelas dan lestari menghadirkan Kristus, Sang Batu Hidup (1 Ptr 2:4).

Bagaimana keistimewaan altar ditampilkan? Altar ditutup sehelai kain putih. Altar dapat dihiasi rangkaian bunga, tapi tak berlebihan dan cukup ditempatkan di sekitar altar, bukan di atasnya. Di atas altar ditempatkan hanya barang-barang yang diperlukan untuk Misa, yakni Evangeliarium (dari awal perayaan sampai sebelum pemakluman Injil); korporale, purifikatorium, buku Misale, dan piala dengan patena, sibori (dari persiapan persembahan sampai pembersihan bejana-bejana).

Lilin ditaruh di atas atau di sekitar altar, sesuai dengan bentuk altar dan tata ruang panti imam. Di atas atau di dekat altar hendaknya dipajang sebuah salib dengan sosok Kristus tersalib. Salib itu harus mudah dilihat oleh seluruh umat. Semuanya harus ditata secara serasi, dan tidak boleh menghalangi pandangan umat, sehingga umat dapat melihat dengan jelas apa yang terjadi di altar atau yang diletakkan di atasnya (PUMR 304-308).

Mengingat makna dan keistimewaannya, maka altar sebagai simbol Kristus pun dihormati dengan beberapa cara. Semua petugas membungkuk pada altar ketika menghampirinya dan hendak memulai tugas. Ketika Ritus Pembuka imam selebran menciumnya, lalu jika perlu juga mendupai altar dan salib. Dalam Ritus Penutup, sebelum meninggalkan panti imam, ia kembali mencium dan membungkuk lagi bersama petugas lainnya.

Menghormati tabernakel

Seringkali ada juga tabernakel di panti imam. Idealnya, tabernakel disendirikan di sebuah kapel khusus yang dapat dijangkau dengan mudah dari panti imam. Tabernakel memang sebenarnya tak diperhitungkan sebagai bagian dalam Misa. Fungsinya berkaitan dengan ritual setelah Misa, yakni untuk menyimpan Tubuh Kristus yang belum disantap dalam Misa atau yang dikhususkan bagi orang sakit yang tak bisa hadir dalam Misa dan bagi kegiatan adorasi.

Letak tabernakel di panti imam juga tak seragam. Ada yang di belakang atau samping altar. Tabernakel dihormati oleh setiap petugas yang melewati atau menghampirinya. Jika di belakang altar terdapat tabernakel yang berisi Sakramen Mahakudus, maka penghormatan awal untuk altar dijadikan satu dengan untuk tabernakel, yakni dengan cara berlutut. Berlutut adalah sikap hormat tertinggi yang khusus diberikan bagi Sakramen Mahakudus. Simbolsimbol Kristus lainnya (imam, Kitab Injil, altar, salib) dihormati dengan cara membungkukkan badan.

Christophorus H. Suryanugraha OSC

Nyanyian yang Menyatukan


Koster membunyikan lonceng kecil. Umat berdiri dan bernyanyi bersama paduan suara. Sebuah perarakan meriah tampil dari pintu utama gereja. Perhatikan bagaimana umat bernyanyi. Gerak mulut dan suara yang terdengar tampak harmonis. Wajah-wajah antusias di antara alunan nada yang pas.

Begitulah ekspresi kegairahan mereka menyambut kehadiran Kristus dalam diri imam. Umat yang bersemangat itu makin tersenyum hatinya ketika melihat siapa imamnya: ”Ahaaa… ini dia pastor kita tercinta….” Imam yang simpatik dan berwibawa itu sesekali menyunggingkan senyuman yang terjaga. Ia juga ikut bernyanyi.

Mengiringi perarakan

Mungkin cerita kecil di atas bisa menjadi gambaran ideal tentang menyatunya umat dan imam yang diperindah oleh nyanyian. Keindahan nyanyian mengandung makna tersendiri. Nyanyian justru menciptakan keindahan iman seluruh Gereja yang satu dan kudus, tak hanya kesatuan di antara mereka yang sedang mengawali perayaan Ekaristi.

Dalam nyanyian itu segala perbedaan dan keunikan suara dipadukan. Suara Gereja sedang berkumandang. Suara yang menggemakan kesatuan iman, doa, dan pujian dari Gereja semesta di seluruh dunia. Kita meyakini pula bahwa suara Gereja itu sedang berpadu dengan suara-suara surgawi. Para malaikat dan orang-orang kudus turut bergabung dan bersukacita dalam perayaan Gereja. Ada misteri tersembunyi di balik keindahan umat yang bernyanyi.

Pedoman Umum Misale Romawi (PUMR 47) menjelaskan: ”Setelah umat berkumpul, imam bersama dengan diakon dan para pelayan berarak menuju altar. Sementara itu dimulai nyanyian perarakan.” Perarakan masuk mengandaikan terwujudnya kebersamaan umat terlebih dulu. Imam bersama rombongan berarak menuju altar. Para pelayan menghormati altar, meletakkan peranti perarakan pada tempatnya, lalu menuju tempat duduk yang sudah disediakan bagi mereka. Imam menghormati altar dengan tiga cara: membungkuk, mendupai, mencium.

Nyanyian perarakan terus mengiringi semua tindakan itu, sampai dengan imam siap di kursinya untuk melanjutkan ke ritus berikutnya. Nyanyian berhenti sebelum imam membuat tanda Salib bersama jemaat. Jika bait-bait nyanyian sudah habis, sementara imam belum siap di kursinya, sebaiknya nyanyian diulangi lagi dari awal atau alat musik meneruskannya secara instrumental.

Maksud dan cara

Sebagai unsur yang memperindah perarakan masuk, nyanyian perarakan terutama bertujuan untuk "membuka Misa, membina kesatuan umat yang berhimpun, mengantar masuk ke dalam misteri masa liturgi atau pesta yang dirayakan, dan mengiringi perarakan imam beserta pembantu-pembantunya." Beberapa butir tujuan ini dapat dijadikan acuan ketika kita hendak menentukan apa nyanyiannya dan bagaimana membawakannya.

Syair dan melodi seperti apa yang paling cocok untuk dapat memenuhi tuntutan tujuan di atas? Untuk membantu menentukan pilihan, PUMR 48 menganjurkan dua buku nyanyian gregorian. Buku nyanyian lain juga boleh digunakan asalkan nyanyian yang dipilih masih sesuai dengan sifat perayaan, sifat pesta, dan suasana masa liturgi, serta disahkan oleh Konferensi Waligereja atau Uskup Dioses.


Christophorus H. Suryanugraha OSC



Tanda Salib dengan Air Suci


Ketika hendak memasuki gereja, seorang ibu mencelupkan jarinya ke dalam tempat air suci yang tersedia di depan pintu gereja. Sebelum membuat tanda salib pada dirinya sendiri, ia menyodorkan jarinya yang basah itu ke anaknya. Anaknya menyambut dengan jarinya yang kemudian ketularan basah. Lalu, ia menyodorkan jarinya yang basah itu kepada ayahnya.

Ayah itu menerima dengan jarinya juga dan meneruskannya kepada anak satunya lagi. Entah, berapa lagi orang yang ikut rombongan keluarga itu. Seberapa basah pula jari-jari yang saling bersentuhan dan saling meneruskan itu. Kejadian seperti ini mungkin pernah kita lihat. Jika kita memahami makna ritual sederhana itu, praktik di atas terasa agak aneh.

Makna
Praktik mencelupkan jari ke dalam air suci biasa kita lakukan, ketika memasuki gedung gereja. Tindakan ini bukan bagian dari Perayaan Ekaristi, maka tak perlu dianggap sebagai keharusan untuk memenuhi syarat ikut merayakan Ekaristi atau Misa. Ritual ini lebih berkaitan dengan ritual baptis. Artinya, untuk mengenangkan saat pembaptisan kita sebagai orang Kristiani. Kita dibaptis dengan air.

Kata ”baptis” berasal dari baptizein (Yunani) yang berarti memandikan, mencelupkan, dan membenamkan. Dibaptis berarti disucikan, dibersihkan dari kuasa dan noda dosa, dijadikan baru, dilahirkan kembali sebagai anak-anak Allah, serupa dengan Yesus Kristus Putra-Nya.

Dulu, orang-orang Kristiani dewasa mengalami pembaptisan dengan cara dibenamkan tiga kali di dalam air kolam atau tempat pemandian. Mereka yang akan dibaptis menanggalkan busananya dan memasuki tempat pembaptisan. Setelah itu, mereka keluar dari air dan diberi busana putih di pinggir kolam.

Tiga kali pembenaman melambangkan iman akan Allah Tritunggal dan saat tiga hari Yesus berada dalam makam. Cara ini kini sudah jarang, bahkan mungkin tak lagi dilakukan, meskipun tidak dilarang oleh Hukum Gereja.

Cara baru dengan menuangkan air di kepala dianggap lebih mudah dipraktikkan. Kolam telah diganti bejana baptis. Imam menuangkan air baptis tiga kali. Angka tiga melambangkan Allah Tritunggal. Maka, nama ketiga pribadi Trinitas ini disebutkan ketika imam menuangkan air. Pembaptisan sesungguhnya adalah tindakan Allah sendiri, bukan tindakan sang imam, meskipun ia mengatakan: ”Aku membaptis engkau dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus.”

Cara pengenangan
Untuk mengenangkan pembaptisan ini, kita pinjam empat unsur yang digunakan pada waktu kita dibaptis, yakni air, bejana, tubuh, dan nama Allah Tritunggal. Di depan pintu gereja, kita temukan air suci dalam sebuah wadah, pengganti bejana baptis. Ke dalam air suci ini, kita memasukkan jemari, bagian dari tubuh kita. Dengan air dan jemari yang basah itu, kita membuat tanda salib pada dahi, dada (atau pusar), lengan kiri, dan kanan sembari mengucapkan dalam hati, ”Dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Amin.”

Ritual simbolis ini memerlukan penghayatan pribadi. Tidak cukuplah sekadar mencelupkan jemari dan secara refleks membuat tanda salib dengan air suci itu pada diri kita. Secara fisik bisa kita rasakan sejenak, bagian dari tubuh kita disegarkan oleh air suci.

Saat itu, kita membangkitkan kesadaran akan status kita sebagai orang beriman yang telah diselamatkan. Kita membatinkan anugerah istimewa yang telah kita terima berkat kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Selayaknya itu pun kita lakukan untuk diri sendiri, jangan meneruskan air suci yang membasahi jari kepada orang lain.

Gedung gereja yang kita masuki adalah tempat orang Kristiani berhimpun untuk berkomunikasi dengan Allah dan anggota Gereja lainnya, untuk berdoa bersama Kristus, dan untuk memuliakan Allah Bapa. Gedung gereja adalah tempat yang juga sudah disucikan dan layak menjadi tempat bagi umat untuk menerima kembali rahmat pengudusan.

Dengan demikian, lengkaplah cara pengenangan kita ketika memasuki gereja. Sikap tubuh, materi air, dan kata-kata yang membangun makna ritual, serta ruang yang menunjang telah menawarkan sesuatu untuk penghayatan hidup beriman.

Sering juga muncul pertanyaan: ”Masih perlukah membuat tanda salib lagi ketika meninggalkan gedung gereja?” Dalam konteks pemaknaan simbolis ini, kita dapat menjawab: ”Tidak perlu lagi.” Jika ada yang melakukannya, tentulah itu bukan tindakan buruk. Mungkin maknanya berbeda. Bisa juga tindakan ini mengganggu arus masuk umat yang akan mengikuti Misa selanjutnya.


C. Harimanto Suryanugraha OSC