Kamis, 10 November 2011

Nyanyian yang Menyatukan


Koster membunyikan lonceng kecil. Umat berdiri dan bernyanyi bersama paduan suara. Sebuah perarakan meriah tampil dari pintu utama gereja. Perhatikan bagaimana umat bernyanyi. Gerak mulut dan suara yang terdengar tampak harmonis. Wajah-wajah antusias di antara alunan nada yang pas.

Begitulah ekspresi kegairahan mereka menyambut kehadiran Kristus dalam diri imam. Umat yang bersemangat itu makin tersenyum hatinya ketika melihat siapa imamnya: ”Ahaaa… ini dia pastor kita tercinta….” Imam yang simpatik dan berwibawa itu sesekali menyunggingkan senyuman yang terjaga. Ia juga ikut bernyanyi.

Mengiringi perarakan

Mungkin cerita kecil di atas bisa menjadi gambaran ideal tentang menyatunya umat dan imam yang diperindah oleh nyanyian. Keindahan nyanyian mengandung makna tersendiri. Nyanyian justru menciptakan keindahan iman seluruh Gereja yang satu dan kudus, tak hanya kesatuan di antara mereka yang sedang mengawali perayaan Ekaristi.

Dalam nyanyian itu segala perbedaan dan keunikan suara dipadukan. Suara Gereja sedang berkumandang. Suara yang menggemakan kesatuan iman, doa, dan pujian dari Gereja semesta di seluruh dunia. Kita meyakini pula bahwa suara Gereja itu sedang berpadu dengan suara-suara surgawi. Para malaikat dan orang-orang kudus turut bergabung dan bersukacita dalam perayaan Gereja. Ada misteri tersembunyi di balik keindahan umat yang bernyanyi.

Pedoman Umum Misale Romawi (PUMR 47) menjelaskan: ”Setelah umat berkumpul, imam bersama dengan diakon dan para pelayan berarak menuju altar. Sementara itu dimulai nyanyian perarakan.” Perarakan masuk mengandaikan terwujudnya kebersamaan umat terlebih dulu. Imam bersama rombongan berarak menuju altar. Para pelayan menghormati altar, meletakkan peranti perarakan pada tempatnya, lalu menuju tempat duduk yang sudah disediakan bagi mereka. Imam menghormati altar dengan tiga cara: membungkuk, mendupai, mencium.

Nyanyian perarakan terus mengiringi semua tindakan itu, sampai dengan imam siap di kursinya untuk melanjutkan ke ritus berikutnya. Nyanyian berhenti sebelum imam membuat tanda Salib bersama jemaat. Jika bait-bait nyanyian sudah habis, sementara imam belum siap di kursinya, sebaiknya nyanyian diulangi lagi dari awal atau alat musik meneruskannya secara instrumental.

Maksud dan cara

Sebagai unsur yang memperindah perarakan masuk, nyanyian perarakan terutama bertujuan untuk "membuka Misa, membina kesatuan umat yang berhimpun, mengantar masuk ke dalam misteri masa liturgi atau pesta yang dirayakan, dan mengiringi perarakan imam beserta pembantu-pembantunya." Beberapa butir tujuan ini dapat dijadikan acuan ketika kita hendak menentukan apa nyanyiannya dan bagaimana membawakannya.

Syair dan melodi seperti apa yang paling cocok untuk dapat memenuhi tuntutan tujuan di atas? Untuk membantu menentukan pilihan, PUMR 48 menganjurkan dua buku nyanyian gregorian. Buku nyanyian lain juga boleh digunakan asalkan nyanyian yang dipilih masih sesuai dengan sifat perayaan, sifat pesta, dan suasana masa liturgi, serta disahkan oleh Konferensi Waligereja atau Uskup Dioses.


Christophorus H. Suryanugraha OSC



Tanda Salib dengan Air Suci


Ketika hendak memasuki gereja, seorang ibu mencelupkan jarinya ke dalam tempat air suci yang tersedia di depan pintu gereja. Sebelum membuat tanda salib pada dirinya sendiri, ia menyodorkan jarinya yang basah itu ke anaknya. Anaknya menyambut dengan jarinya yang kemudian ketularan basah. Lalu, ia menyodorkan jarinya yang basah itu kepada ayahnya.

Ayah itu menerima dengan jarinya juga dan meneruskannya kepada anak satunya lagi. Entah, berapa lagi orang yang ikut rombongan keluarga itu. Seberapa basah pula jari-jari yang saling bersentuhan dan saling meneruskan itu. Kejadian seperti ini mungkin pernah kita lihat. Jika kita memahami makna ritual sederhana itu, praktik di atas terasa agak aneh.

Makna
Praktik mencelupkan jari ke dalam air suci biasa kita lakukan, ketika memasuki gedung gereja. Tindakan ini bukan bagian dari Perayaan Ekaristi, maka tak perlu dianggap sebagai keharusan untuk memenuhi syarat ikut merayakan Ekaristi atau Misa. Ritual ini lebih berkaitan dengan ritual baptis. Artinya, untuk mengenangkan saat pembaptisan kita sebagai orang Kristiani. Kita dibaptis dengan air.

Kata ”baptis” berasal dari baptizein (Yunani) yang berarti memandikan, mencelupkan, dan membenamkan. Dibaptis berarti disucikan, dibersihkan dari kuasa dan noda dosa, dijadikan baru, dilahirkan kembali sebagai anak-anak Allah, serupa dengan Yesus Kristus Putra-Nya.

Dulu, orang-orang Kristiani dewasa mengalami pembaptisan dengan cara dibenamkan tiga kali di dalam air kolam atau tempat pemandian. Mereka yang akan dibaptis menanggalkan busananya dan memasuki tempat pembaptisan. Setelah itu, mereka keluar dari air dan diberi busana putih di pinggir kolam.

Tiga kali pembenaman melambangkan iman akan Allah Tritunggal dan saat tiga hari Yesus berada dalam makam. Cara ini kini sudah jarang, bahkan mungkin tak lagi dilakukan, meskipun tidak dilarang oleh Hukum Gereja.

Cara baru dengan menuangkan air di kepala dianggap lebih mudah dipraktikkan. Kolam telah diganti bejana baptis. Imam menuangkan air baptis tiga kali. Angka tiga melambangkan Allah Tritunggal. Maka, nama ketiga pribadi Trinitas ini disebutkan ketika imam menuangkan air. Pembaptisan sesungguhnya adalah tindakan Allah sendiri, bukan tindakan sang imam, meskipun ia mengatakan: ”Aku membaptis engkau dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus.”

Cara pengenangan
Untuk mengenangkan pembaptisan ini, kita pinjam empat unsur yang digunakan pada waktu kita dibaptis, yakni air, bejana, tubuh, dan nama Allah Tritunggal. Di depan pintu gereja, kita temukan air suci dalam sebuah wadah, pengganti bejana baptis. Ke dalam air suci ini, kita memasukkan jemari, bagian dari tubuh kita. Dengan air dan jemari yang basah itu, kita membuat tanda salib pada dahi, dada (atau pusar), lengan kiri, dan kanan sembari mengucapkan dalam hati, ”Dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Amin.”

Ritual simbolis ini memerlukan penghayatan pribadi. Tidak cukuplah sekadar mencelupkan jemari dan secara refleks membuat tanda salib dengan air suci itu pada diri kita. Secara fisik bisa kita rasakan sejenak, bagian dari tubuh kita disegarkan oleh air suci.

Saat itu, kita membangkitkan kesadaran akan status kita sebagai orang beriman yang telah diselamatkan. Kita membatinkan anugerah istimewa yang telah kita terima berkat kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Selayaknya itu pun kita lakukan untuk diri sendiri, jangan meneruskan air suci yang membasahi jari kepada orang lain.

Gedung gereja yang kita masuki adalah tempat orang Kristiani berhimpun untuk berkomunikasi dengan Allah dan anggota Gereja lainnya, untuk berdoa bersama Kristus, dan untuk memuliakan Allah Bapa. Gedung gereja adalah tempat yang juga sudah disucikan dan layak menjadi tempat bagi umat untuk menerima kembali rahmat pengudusan.

Dengan demikian, lengkaplah cara pengenangan kita ketika memasuki gereja. Sikap tubuh, materi air, dan kata-kata yang membangun makna ritual, serta ruang yang menunjang telah menawarkan sesuatu untuk penghayatan hidup beriman.

Sering juga muncul pertanyaan: ”Masih perlukah membuat tanda salib lagi ketika meninggalkan gedung gereja?” Dalam konteks pemaknaan simbolis ini, kita dapat menjawab: ”Tidak perlu lagi.” Jika ada yang melakukannya, tentulah itu bukan tindakan buruk. Mungkin maknanya berbeda. Bisa juga tindakan ini mengganggu arus masuk umat yang akan mengikuti Misa selanjutnya.


C. Harimanto Suryanugraha OSC

Senin, 10 Oktober 2011

MENGENAL EKARISTI




Ekaristi Berasal dari bahasa Yunani “eucharistia”, artinya “syukur”, – merupakan ucapan syukur atas karya penebusan dan kenangan akan sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus. Dalam Ekaristi, Tuhan Yesus memberikan Tubuh dan Darah-Nya sendiri dalam rupa roti dan anggur (lih Luk 22:19). Puncak Liturgi adalah Ekaristi.

Apakah Ekaristi sama dengan Misa?
Dalam percakapan sehari-hari, kata misa dipahami dalam arti Perayaan Ekaristi.
Kata Misa berasal dari rumus penutup Perayaan Ekaristi dalam bahasa Latin: “ite,missa est” : “Pergilah, misa sudah selesai”. Tata Perayaan Ekaristi (TPE) memasukkan unsur “pengutusan” ke dalam bagian akhir TPE ini. Untuk itu TPE baru menampilkan rumus: “Marilah pergi. Kita diutus”.
Dengan merayakan Ekaristi… Kita bertemu dengan Tuhan Yesus, baik melalui sabdaNya maupun TubuhNya. Selain itu, kita dipersatukan sebagai umat Allah.
Mengapa kita wajib merayakan Ekaristi di Hari Minggu dan Hari Raya?
1) Bersama seluruh umat beriman kita merayakan dengan penuh syukur karya penyelamatan Allah yang hadir dalam diri Yesus Kristus lewat peristiwa wafat dan kebangkitanNya; Yesus sendiri bersabda, “…lakukanlah ini untuk mengenangkan Daku” (bdk. Luk 22:19).
2) Bersama umat beriman lainnya kita mengucap syukur karena dari hari Senin sampai Sabtu kita sudah diberi kekuatan, kesehatan, perlindungan, rejeki, dan lain-lain (bdk. Kis 2:46).
3) Sepuluh Perintah Allah yang ke-3 mengatakan “Kuduskanlah Hari Tuhan”.
4) Lima Perintah Gereja yang ke-2 mengatakan “Ikutilah perayaan Ekaristi pada hari Minggu dan Hari Raya yang diwajibkan, dan janganlah melakukan pekerjaan yang dilarang pada hari itu”.

Struktur Perayaan Ekaristi
Dua bagian: Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi. Sehingga merupakan satu tindak ibadat. Sebab dalam Perayaan Ekaristi itu, Sabda Allah dihidangkan untuk menjadi pengajaran bagi umat dan Tubuh Kristus menjadi santapan bagi orang-orang beriman.

Tahukah Anda?
+ Hanya imam, oleh karena tahbisannya, yang bisa memimpin Ekaristi.
*
+ Ekaristi berbeda dengan Ibadat Sabda. Disebut Ekaristi bila ada imam, Doa Syukur Agung (DSA) dan Komuni.
*
+ Orang boleh merayakan Ekaristi 2 kali dan menerima Komuni Kudus 2 kali pula dalam hari yang sama.
*
+ Hanya orang yang sudah dibaptis secara Katolik atau diterima ke dalam Gereja Katolik dan telah menerima Komuni Pertama yang boleh menerima Komuni Kudus dalam Perayaan Ekaristi.
+ Kolekte (derma) dalam Perayaan Ekaristi dalam Gereja Katolik tidak
* dibatasi dalam “persepuluhan”, tetapi “suka rela” artinya tidak hitung-hitungan, tetapi tulus (mungkin bisa kurang dan atau bisa lebih dari “persepuluhan”).
+ Rumusan doa pengampunan pada bagian awal Perayaan Ekaristi tidak
* berarti umat tidak perlu Sakramen Tobat. Bahkan yang punya dosa berat disarankan menerima Sakramen Tobat dahulu agar layak menyambut Tubuh dan DarahNya.

Tips Merayakan Ekaristi
+ Berpuasa 1 jam sebelum mengikuti Perayaan Ekaristi.
+ Hadir lebih awal dengan pakaian pantas.
+ Persiapkan diri dengan menciptakan waktu teduh di dalam Gereja.
+ Sadari dan mohon ampun atas kesalahan dan dosa.
+ Ikut terlibat dalam menyanyi dan menjawab ajakan pemimpin Ibadat.
+ Dengarkanlah apa yang Allah ingin beritakan lewat bacaan-bacaan Kitab Suci dan Kotbah Imam.
+ Mempersatukan persembahkan diri kita dengan roti dan anggur yang akan diubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus.
+ Sembahlah Dia di saat konsekrasi dengan segenap hati dan budi kita.
+ Sampaikan Salam Damai kepada saudara-saudari kita dengan tulus.
+ Terimalah Hosti Kudus dan sapalah Dia secara pribadi dalam hati dan budi kita.
+ Ciptakan saat teduh dan doa pribadi setelah Komuni.
+ Jangan tinggalkan Perayaan Ekaristi sebelum mendapat berkat penutup lewat imam.
+ Bersiaplah menjalani hidup harian kita dengan membagi-bagi berkat Ekaristi yang kita dapatkan.
+ Kita diutus untuk membawa damai.

EKARISTI MENCIPTAKAN DAN MEMBANGUN PETRSEKUTUAN



          Persekutuan  Ekaristi meneguhkan Gereja dalam kesatuan sebagai tubuh Kristus. Daya pemersatu dari partisipasi dalam perjamuan Ekaristi inilah yang dimaksud Santo Paulus tatkala ia menulis kepada jemaat di Korintus, “Bukankah roti yang kita pecahkan adalah persekutuan dalam tubuh Kristus? Karena hanya ada satu roti, maka kita yang banyak menjadi satu tubuh, karena kita semua ambil bagian dalam roti yang satu” (1 Kor 10:16-17). Santo Yohanes Krisostomus memberi komentar  atas kata-kata ini secara mendalam dan gemilang,…”apakah roti itu? Itulah tubuh Kristus.  Dan menjadi apakah mereka yang menyambutnya? Menjadi tubuh Kristus – bukan banyak tubuh melainkan hanya satu tubuh…
   Maka Ekaristi ditampilkan sebagai puncak segala sakramen dalam penyempurnaan persekutuan kita dengan Allah Bapa, lewat penyatuan diri kita kepada Putra Tnggal-Nya, berkat karya Roh Kudus…

       Ekaristi menciptakan persekutuan dan mengembangkan persekutuan. Santo Paulus menulis kepada umat di Korintus seraya menandaskan betapa perpecahan mereka…bertentangan dengan yang mereka rayakan, yakni Perjamuan Tuhan. Lantas Rasul Paulus mendorong mereka mempertimbangkan kenyataan yang sebenarnya dari Ekaristi agar mereka kembali kepada semangat persekutuan persaudaraan (lih. 1 Kor 11:17-34)

KITA MENYAMBUT KRISTUS


KRISTUS MENYAMBUT KITA

            Penyatuan kita dengan Kristus, yang dihasilkan oleh babtisan, terus-menerus diperbarui dan dimantapkan dengan ambil bagian dalam Kurban Ekaristi, terutama lewat persekutuan penuh yang terjadi dalam komuni sakramental. Kita  dapat berkata bahwa bukan saja kita masing-masing menyambut Kristus, tetapi juga Kristus menyambut kita masing-masing.
Ia menjalin persahabatan dengan kita, “Kamu adalah sahabat-sahabat-Ku” {Yoh 15:14). Sungguh justru karena Dia, kita memiliki hidup, “Yang makan tubuh-Ku akan hidup dalam Aku” (Yo 6:57). Komuni Ekaristi mewujudkan jalan luhur untuk “tinggal” bersama antara Kristus dan sahabat-sahabatNya. “ Tinggallah dalam Aku dan Aku dalam kamu” (Yoh 15:4).
            Berkat persekutuan dengan Kristus, Umat Perjanjian Baru – yang sama sekali tidak menutup diri – menjadi “sakramen” bagi umat manusia, tanda dan sarana  penyelamatan yang diperoleh Kristus, terang dan garam dunia (lih.Mat 5:13-16), demi penyelamatan semua orang. Misi Gereja melanjutkan  misi Kristus, “Seperti Bapa telah mengutus Aku, demikianlah Aku mengutus kamu” (Yoh 20:21). Lewat pengabadian kurban salib dan persekutuan Gereja dengan tubuh dan darah Kristus dalam Ekaristi, Gereja menarik daya Rohani yang dibutuhkannnya untuk mewujudkan misinya. Demikianlah Ekaristi muncul serentak sebagai sumber dan puncak segala evangelisasi, justru karena tujuannya adalah persekutuan umat manusia dengan Kristus, yang di dalam Dia dengan  Bapa dan Roh Kudus.